Perjuangan ‘Pasukan Lali Omah’
SURABAYA- Tema Let’s play!
yang diusung UBS
DetEksi-Con 2k13
ini makin membuat ide segar nan kreatif bermunculan. Sejumlah peserta yang
berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur berlomba-lomba mengeksplorasi ide
menarik mereka dalam bentuk mading. Ada kisah menarik, lucu, heboh bahkan sedih
dalam prosesnya, yang membuat ajang pelajar terbesar dan terheboh di Indonesia
ini makin wajib untuk disimak.
Datang dari sebuah
kabupaten yang terkenal dengan Taman Safari Jatim - nya, SMA Sejahtera Prigen
ini begitu percaya diri dengan mading 3D yang mereka
buat. Mading yang bertemakan tentang suasana Bali ini
membuat mereka harus berkerja keras untuk mencapai hasil yang maksimal. “Alasan
kami memilih tema Bali karena
banyak orang yang mengira bahwa Bali
itu hanya terkenal dengan pantainya saja. Padahal tidak, ada budaya, adat, penduduk asli dan yang
pasti keindahan alam lainnya yang lebih banyak dan menarik,” ujar Lella, salah satu anggota tim mading berjudul GWK
ini.
Mereka
memberi informasi kepada seluruh pengunjung di SSCC ini bahwa Bali itu menarik kalau ditelusuri lebih lanjut. Mereka membuat
permainan remote control yang
disertai clue-clue
yang isinya tantangan dimana
pemain harus berhenti disuatu tempat.
Berbagai
rintangan pun harus mereka lalui baik saat pembuatan hingga berada di Surabaya. “Kami harus cari properti
buat ngamanin mading biar gak kepanasan, kehujanan, karena lokasinya jauh. Saat konvensi dimulai, mereka pun rela menginap di
Musholla SSCC. Tapi kalo anak gunung ke kota yang
pertama pasti bermasalah dengan kecocokan suhu udara yang sangat panas.” Ujar Laela, koordinator anggota mading SMA Sejahtera
Prigen.
Pasukan Lali Omah -sebutan anggota mading SMA Sejahtera Prigen- ini percaya diri saat unjuk
gigi berkampanye dengan konsep yang sangat unik untuk indoor, yaitu teatrikal
yang membawakan cerita rakyat
sendratari, yakni
penculikan Dewi
Shinta. Namanya juga
Karnaval, bentuk kampanye yang mereka tunjukkan memang lebih banyak pada
peragaan yang menyangkut tema madingnya.
”Pengalaman menarik kita sih banyak, salah satunya ada anak kecil yang mainan
mading kita, terus dia tanya-tanya gitu sampai jelajahin mading on the spot, mading
3D, dan mading 2D kami juga. Saking betahnya, remote control untuk bermain sampai patah dan harus kami perbaiki
ulang,” ungkap Laela.
Pengorbanan
yang mereka lakukan memang tidak sia-sia. Sejak tahun 2002 sekolah ini selalu
membawa pulang medali baik emas, perak maupun perunggu. Tahun ini mereka hanya
dapat memboyong 1 medali perunggu di kategori kampanye, 1 medali perunggu di
kategori Ultra Milk Papercraft Competition, dan 1 medali emas di kategori UBS
Mading On the spot. Mereka memotivasi diri mereka sendiri, dan juga guru-guru
sekolah yang sangat mendukung kegiatan mereka. Terlebih orang tua yang berperan
besar mendukung mereka khususnya untuk terus mengharumkan nama baik sekolah. “Harapannya
sih sebenernya kita ingin merebut posisi best
school kembali seperti 2 tahun yang lalu.” Ujarnya lirih.
Komentar
Posting Komentar