Cerpen Penyesalan Tiada Arti




Angin malam berhembus kencang, bintang-bintang kecil bertaburan dan rembulan yang indah menghiasi malam sebuah desa kecil di pinggir kota Semarang kali ini. Namun  pemandangan tersebut berbeda jauh dengan hati Didit yang sedang padam bagai tersiram air yang deras.
Didit adalah seorang pria pengangguran yang usianya hampir berkepala empat. Anaknya dan istrinya pergi meninggalkan Didit. Mereka tidak tahan dengan kondisi ekonomi keluarganya. Sedangkan orang tua Didit tinggal berpisah dengannya.
Didit termenung, pandangannya kosong. Yang di pikirannya hanya satu bagaimana ia bisa mendapatkan uang banyak setiap hari dan tidur pulas di rumah bersama Lastri istrinya dan Roni anaknya, ia tak berani pulang ke rumah dengan tangan hampa. Sebab jika pulang ia hanya mendapatkan cacian dan omelan dari sang istri. Bahkan sampai-sampai ia pernah di suruh tidur di luar rumah jika tidak membawa uang sepeser pun. Sebenarnya Didit tak tahan lagi dengan perlakuan Lastri.
Satu jam berlalu, Didit masih dalam posisinya, duduk termenung dan memandangi bintang di langit. Tiba-tiba benda asing jatuh dari langit, melihat peristiwa tersebut sontak membuat Didit terkejut dan ia pun beranggapan bahwa benda asing itu adalah sebuah bintang yang jatuh dari angkasa, tanpa pikir panjang Didit segera memanjatkan doanya.
“wahai bintang yang jatuh bantulah aku dari kesusahan ini, berilah jalan keluar untuk ku”, harapnya. Selang beberapa menit, terdengar suara ketukan  pintu rumah Didit. Sontak ia bergegas membuka pintu depan dan mendapati Anto, tetangga sebelah rumahnya membawa sebuah surat  untuk Didit.  
Setelah membaca surat tersebut ekpresi wajahnya mendadak berubah menjadi semangat, tubuhnya seketika lemas, tak terasa butir-butir air mata jatuh menetes hingga kini ia dibanjiri tangisan haru. Doanya yang sudah ia ucapkan terkabul. Ia diterima bekerja di suatu perusahaan besar di Jakarta.
Sebagian dari penghasilan Didit setiap bulan ia sisihkan untuk orang tuanya di kampung. Namun, kebiasaan mengirim uang kepada orang tuanya hanya bertahan selama 2 tahun, setelah itu berbagai kebutuhan yang diperlukan Didit pun bertambah banyak dan lupa dengan orang tuanya. Setelah 10 tahun bekerja keras membanting tulang di kota besar, Didit mempunyai segalanya. Rumah mewah dan mobil mewah telah dimilikinya. Keadaan Didit di Jakarta berbanding terbalik dengan keadaan kedua orang tuanya di kampung.
Suatu ketika ia mendapatkan sebuah surat kembali dari ibunya. Surat itu mengabarkan bahwa ibu Didit sedang sakit parah dan membutuhkan biaya untuk perawatan rumah sakit dan menyuruhnya untuk kembali ke kampung. Tetapi, bagi Didit ini hanya omong kosong ibunya saja.
Keesokan paginya ia bekerja seperti biasa. Pandangan tak biasa terlihat di depan kantornya. Seorang wanita berbaju compang camping sedang meminta-minta dengan ditemani anaknya yang tertidur lelap di pangkuannya. “Hei gelandangan! Ngapain kamu disini?pergi sana dari tempat ini. Kantor saya jadi kotor karena keberadaanmu.”
“Sebaiknya rubahlah sikapmu ini nak. Janganlah kau cepat puas dan sombong dengan apa yang kamu miliki. Ingatlah dengan siapa yang memberimu ini semua. Segeralah pulang nak, ibumu sangat membutuhkanmu..” ucap pengemis itu. “Hei beraninya kau mengajariku? Dan mengapa kau tiba-tiba sebut nama ibuku?Tahu darimana kau dengan  keadaan ibuku?”. “Kau tidak perlu tau darimana saya bisa tahu keadaan ibumu. Segeralah pulang nak, penyesalan selalu datang di akhir.” Ujar pengemis itu. Didit mengabaikan perkataan pengemis itu dan bergegas masuk ke dalam kantor. Sejenak ia berpikir dan termenung mengenang masa kecilnya yang selalu ditemani dan dibimbing baik oleh ibunya. Lamunannya terpecah ketika telpon genggamnya tiba-tiba berbunyi. “Halo selamat pagi, apakah ini benar dengan bapak Didit Sanjaya?” ucap orang di seberang telepon. “Iya pagi. Ini siapa?” jawab Didit. “Saya dari petugas UGD Rumah Sakit Pondok Indah, anak bapak yang bernama Roni kecelakaan  dan sedang dirawat di rumah sakit ini. Sekian itu saja yang saya sampaikan. Terima kasih pak. Selamat pagi.” Seketika nafasnya terhenti dan tak bisa berkata apa-apa. “T-te-rima.. k-ka-sih pak atas infonya...” ujar Didit terbata-bata.
Didit memang mempunyai satu orang anak perempuan. Awalnya saat ia masih miskin, istri dan anaknya pergi meninggalkannya. Namun, sejak kesuksesan Didit di kota akhirnya dua wanita yang sangat dicintainya itu kembali ke pelukannya. Lastri dan Roni 1 bulan berpetualang dari suatu daerah ke daerah kota metropolitan Jakarta ini untuk mencari Didit. Sudah hampir 7 bulan keluarga kecil itu hidup bahagia bersama di rumah mewah hasil kerja keras Didit selama ini.
Sesampai rumah sakit, ia langsung bergegas ke meja resepsionis dan menanyakan keberadaan anak semata wayangnya itu. Sesampai di lorong kamar tempat anaknya dirawat, ia melihat sang istri duduk termenung di depan kamar. Segera ia menghampiri perempuan yang telah menemani hidupnya selama 15 tahun. “Bagaimana keadaan Roni?Apakah sudah membaik?” ujarnya. “Silahkan kamu masuk saja ke dalam. Keadaannya masih shock.” Ucap istrinya sambil tertunduk sedih.
Perlahan Didit memegang tangan Roni, kedua matanya tak lepas dari wajah Roni. Terlihat ada kasih sayang yang dalam dari tatapan itu. Tiba-tiba tangan yang di pegang Didit bergerak, Roni bangun dari tidurnya. Dan ia terkejut ketika ada seorang laki-laki yang selama ini membimbingnya dari kecil hingga saat ini duduk di sampingnya sambil memegang tangannya.
“Ayah? Sejak kapan ayah ada disini?” tanya Roni masih terkejut. “Kenapa kamu bisa seperti ini nak?” tanya Didit. “Ceritanya panjang yah. Roni tidak bisa cerita sekarang... Roni cuma ingin satu hal.” Pinta Roni. “Roni ingin keluarga kita kembali seperti dulu. Ada nenek dan kakek yang selalu menemani Roni. Aku ingin pulang ke Semarang bertemu kakek dan nenek. Pasti mereka rindu sama kita yah..” pinta Roni. Didit terdiam sejenak. “Hhhmm iya tunggu ya nak...ayah akan mengabulkan permintaanmu. Tapi Roni harus sembuh dulu baru kita akan berangkat ke Semarang.”
“Tapi Roni ingin pergi sekarang yah... Roni lama-lama gak suka tinggal di kota yang bising ini” rayu Roni. Tiba-tiba telepon genggam Didit berdering dengan nada yang beraturan. Sebuah pesan singkat dari seseorang yang tak asing dipikirannya. “Didit, tolong segeralah pulang sekarang. Ibumu sakit parah dan sekarang sedang dirawat  di rumah sakit. Ibumu sangat merindukanmu dan anakmu.” Melihat pesan tersebut ekpresi wajahnya mendadak berubah, aliran darahnhya seakan-akan berhenti, tubuhnya seketika lemas, tak terasa butir-butir air mata jatuh menetes hingga kini ia dibanjiri tangisan.
“Ayah kenapa bu?” tanya Roni kepada Lastri. Lastri hanya menggelengkan kepala sambil terus mengamati suaminya yang sedang tertunduk lesu. “Ada apa mas?” tanya Lastri. “Nanti saja dibicarakan diluar, jangan sekarang.” Ujar Didit dengan pandangan kosong. Ia sangat terpukul dan menyesal dengan kejadian yang dialaminya hari ini. Seketika ia teringat dengan kata-kata pengemis tua yang ada di depan kantornya itu. Perkataan pengemis itu terngiang-ngiang di telinga Didit.
Keesokan harinya, Roni diizinkan dokter pulang. Di perjalanan pulang Roni sangat bingung dengan gelagat ayahnya. “Ayah kenapa kok sepertinya gelisah sekali?Lalu ini kan bukan jalan menuju pulang ke rumah yah?Kita mau kemana?.” Didit tak berani berbicara dan ia pun tetap membisu di sepanjang perjalanan.
4 jam kemudian, mobil mewahnya berhenti tepat di sebuah rumah yang sangat sederhana. Rumah sederhana milik Keluarga Ahmad Siswanto ini yang menemani Didit hampir lima belas tahun. Dindingnya yang masih terbuat dari  anyaman bambu itulah yang menjadi saksi hidup Didit mulai dari nol sampai menjadi seperti sekarang. Namun, keadaan berbeda sudah tampak dari depan rumahnya. Banyak orang memakai baju serba hitam berlalu lalang memasuki rumahnya. Tiba-tiba perasaan buruk muncul pada diri Didit.
Kursi rotan becat cokelat yang dulu ia pakai untuk sekedar duduk-duduk saja tidak berubah tampilannya, kini membawanya ke dunia masa lalu, masa lalu yang indah dimana ia selalu di peluk oleh ibu, dimana ibu dan ayahnya selalu memberi senyuman indah untuknya. Dari balik pintu terlihat sosok manusia yang sangat dikenalinya, beliau berbadan gemuk, berkaca mata, dengan rambut yang sudah memutih melemparkan satu senyuman manis dan tegar kepada Didit dan keluarga.
“Kesini lah nak kami sangat merindukanmu”, rayu sang ayah seraya membentangkan tangannya berharap sang anak memeluk dirinya. “Ada apa yah ini?Siapa yang meninggal?.” “Nggg.... I- i - i - Ibumu sudah pergi ke alam lain tadi pagi nak... Ia sudah tenang di sana.” Tutur Ayah Didit lirih dan menahan haru. Seketika itu juga tangisan Lastri dan Roni pecah saat mendengar penjelasan Ayah Didit. Aliran darah Didit seakan-akan berhenti, wajahnya berubah pucat, tubuhnya seakan lemas tak berdaya. “Yah yang benar kalau bicara. Didit belum sempat memohon ampun kepada Ibu, Didit sudah durhaka sama Ibu. Ayah,maafkan Didit, saya sangat menyesal telah berbuat seperti ini. Saya sangat menyesal berkali-kali mengabaikan surat Ayah.”,balasnya dengan suara yang bergetar akibat isak tangis yang tak bisa ditahannya.
“Sudahlah Didit jangan kau sesalkan perbuatanmu yang dulu, ayah sudah melupakan semuanya dan kami sudah memaafkanmu. Ayah saat itu memaklumi kesibukanmu.” jawab ayah seraya memeluk Didit dengan erat. “Tidak yah, itu semua salah Didit. Saya terlalu mementingkan duniawi saja, saya tidak ingat dengan siapa yang memberikan semua ini. Sampai-sampai saya mengabaikan orang tua saya di kampung yang sangat membutuhkan saya. Saya sangat menyesal yah. Maafkan saya...” balas Didit seraya memohon ampun kepada ayahnya. Ayahnya hanya memandanginya dengan sedih. SESUNGGUHNYA PENYESALAN ITU AKAN DATANG SETELAH KITA BERBUAT SATU KESALAHAN, MAKA JANGANLAH MELAKUKAN KEMBALI KESALAHAN ITU KARENA JIKA MELAKUKAN KEMBALI BERSIAPLAH UNTUK MENGHADAPI PENYESALAN. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Blackberry dan Remaja

Keseruan Lomba Antarkelas di SMATAG Champion 2K12