Jadi Tenar di Kampus berkat Jualan Puding
Menjadi mahasiswa adalah hal yang sangat menyenangkan.
Bekumpul dengan banyak teman, belajar sambil main-main, mempunyai banyak
koneksi, punya berbagai
pengalaman organisasi, bahkan tidak sedikit yang menemukan jodoh saat
menjadi seorang mahasiswa. Mahasiswa
sangat identik dengan tugas paper, makalah,
presentasi, organisasi, kepanitiaan, dan tentunya IPK. Banyaknya tugas yang
diberikan oleh dosen biasanya membuat mahasiswa malas mendalami bakat, passion yang dimiliki. Bakat atau passion ini perlu diperhatikan seorang
mahasiswa karena sangat berguna untuk masa depan setelah lulus dari kampus
tercinta.
Misalnya bakat berbisnis yang dimiliki Muhammad Razaak
Firmansyah. Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2014 satu ini cukup dikenal
mahasiswa dan para dosen di Fakultas Ilmu Budaya Unair. Mahasiswa semester 6
ini dikenal karena usaha pudingnya. Sebagai seorang mahasiswa yang
kesehariannya sering di kampus bertemu dengan banyak orang membuat mahasiswa
yang hobi olahraga kempo ini menciptakan suatu peluang usaha yang menarik. Ya, sejak ia semester 2 selain kuliah ia juga melakoni
bisnis berjualan puding. Disela-sela jam kosong perkuliahan ia berkeliling di
FIB mulai dari gazebo, kantin, hall, ruang
kelas sampai ke ruang dosen. Ia
dengan bersemangat menjajakan pudingnya ke mahasiswa, dosen dan karyawan FIB.
“Jualannya masih di area fakultas sendiri aja di FIB. Kalau untuk jualan di
fakultas lain masih belum ada rencana,” terang mahasiswa yang akrab dipanggil
Razaak ini.
Setiap pagi setelah subuh ia selalu membantu sang ibu
membuat puding untuk dijual. “Kalau saya
tidak ada kuliah pagi jam 7 saya selalu menyempatkan membantu ibu untuk membuat
puding dan onde-onde buat jualan,” ujar mahasiswa yang mengambil konsentrasi
liguistik ini. Selain puding, ia juga pernah menambah variasi menunya
seperti kue perut ayam dan kue sus. “Sempet nambah menu perut ayam sama kue sus
tapi gak berlangsung lama karena dilihat-lihat lebih laku puding. Makanya fokus
jualan ke puding dulu,” jelasnya.
Anak pertama dari tiga bersaudara ini menjelaskan
dalam satu hari dagangan puding yang ia bawa ke kampus berjumlah 25-30 buah dan
semua habis terjual, tapi terkadang juga masih ada sisa. “Tidak selalu setiap
hari habis terjual semua. Ya kadang juga sepi pembeli. Kalau ada puding sisa
langsung dibawa pulang dan dimasukkan ke kulkas lagi untuk dijual besok,”
ujarnya. Ia tidak hanya berjualan saat hari efektif kuliah saja, saat hari
minggu pun ia menyempatkan mengais rezeki berjualan puding di area car free day. Razaak biasanya berkeliling area car free day Darmo dan
Taman Bungkul mulai pukul 6 sampai 9 pagi untuk menjajakan pudingnya.
Harapan
Razaak untuk usaha pudingnya ini bisa dikenal banyak orang dan mempunyai
pelanggan yang tidak hanya berasal dari mahasiswa dan dosen di Fakultas Ilmu
Budaya saja tetapi sampai ke semua fakultas di kampus B. Tidak hanya itu, ia
juga mempunyai keinginan untuk memajukan lagi usaha pudingnya dengan menambah variasi kreativitas menu pudingnya.
“Masih merintis ide untuk menambah kreasi menu puding biar nggak puding biasa
aja. Misal bikin puding susu yang dikemas dalam botol. Ya doakan saja saat ini
masih dalam proses untuk menuju kesana,” ujarnya.
Dari cerita sukses diatas, kita dapat melihat bahwa
seorang mahasiswa juga harus mempunyai kreativitas dan passion untuk bekal masa depannya. Menggali potensi diri seperti bakat
berbisnis sangat menguntungkan untuk mahasiswa. Selain untuk bekal pengalaman
di masa depan, penghasilan berkat berbisnis ini juga bisa menjadi uang saku
tambahan. Kunci utama untuk menekuni dunia bisnis saat masih berstatus
mahasiswa ini ialah bisa membagi waktu antara melaksanakan kewajiban kuliah dan
berbisnis. Niat dan kemauan untuk maju juga sangat diperlukan untuk bertahan di
dalam dunia bisnis. Karena jika tidak ada keseriusan untuk fokus terhadap usaha
bisnis yang dimiliki kita akan kalah saing dengan lainnya.
Komentar
Posting Komentar