Adu Nasib di Axis DetEksi-Con 2k12

SURABAYA – Tema bebas yang diusung AXIS DetEksi-Con 2k12 ini makin membuat ide segar nan kreatif para peserta terlihat. Peserta yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Jawa Timur ini berlomba-lomba mengeksplorasi tema bebas ke dalam ide-ide yang menarik. Walaupun AXIS DetEksi-Con 2k12  (9 - 18 November)  telah berhasil terselenggara secara sukses, cerita-cerita unik dibalik kompetisi terbesar dan terheboh di Indonesia ini pun tidak kalah juga untuk disimak.   
            Salah satu cerita datang dari peserta AXIS Mading 3D paling jauh di Jawa Timur, Probolinggo. Berbagai rintangan dan halangan pun mereka lalui baik saat proses pembuatan mading hingga berada di Surabaya. Mading 3D karya MA Miftahul Jannah Probolinggo ini memakan proses pembuatan sekitar 2 bulan dan menelan biaya hingga 1,5  juta. Awalnya, mereka membuat mading sampai berjumlah 3 mading. Karena ada salah satu kendala di persyaratan, maka tim ini dengan berat hati meninggalkan 1 mading 2D lainnya. Dan memilih mading 3D yang berisi artikel-artikel tentang berita penganiyayaan wartawan, fakta-fakta wartawan di berbagai negara, foto-foto berita penganiyayaan wartawan ini untuk dikirim. “Pada saat pemindahan mading dari Probolinggo ke Surabaya butuh ekstra perjuangan. Mading kita sempat rusak 40 % karena efek perjalanan jauh yang kami alami. Dan pada saat itu juga di Surabaya kami segera memperbaikinya. Dengan alat dan bahan seadanya kami memperbaiki mading menjadi seperti semula.” Terang Solikin, salah satu tim kreatif mading MA Miftahul Jannah Probolinggo. 
            “Kami ingin mewujudkan kebebasan press yang sesungguhnya, bukan yang tidak nyata seperti saat ini.” Lanjutnya. Mading yang berjudul Tour de press ini spesial  membahas tentang kebebasan press yang pelaksanaannya saat ini belum maksimal di Indonesia.Mading tersebut terbuat dari 70 % bahan alami. Diantaranya daun-daun kering, bunga tangkai kelapa yang diperoleh tidak lepas dari rintangan berat. Masalah kekompakan antara anggota mading pun sering terjadi di tim ini. Namun, meskipun banyak kendala yang dihadapi, tak tanggung-tanggung MA Miftahul Jannah Probolinggo ini sejak tahun 2004-2011 selalu membawa pulang medali di kompetisi mading ini. Di tahun kesebelas penyelenggaraan AXIS Mading 2D / 3D ini akhirnya mereka membawa pulang medali kembali.
            Pengorbanan dan perjuangan tim mading ini tak berhenti disitu saja. Saat pelaksanaan konvensi dimulai, mereka rela menginap di parkir basement SSCC. Tak bisa dipungkiri, ternyata pengorbanan mereka menginap di basement mereka mulai sejak tahun 2009 lalu. “Selama 14 hari tinggal di Surabaya dengan uang seadanya. Sering kali kami mengalami defisit dalam keuangan kami. Untuk mengakali hal seperti ini kami rela jual koran-koran bekas, kardus bekas atau barang-barang bekas lainnya untuk tambahan uang makan kita.” Kenang Solikin, lirih.
            Berbeda dengan Ilma Syahfitri, siswa SMA Sejahtera Prigen. Datang dari kabupaten yang terkenal dengan Taman Safari Jatim-nya, SMA Sejahtera Prigen ini begitu percaya diri dengan membuat mading yang berjudul "The Real Wild West". Mading 3D yang bertema tentang sisi lain western ini juga mengangkat berbagai cerita tentang Oregon trail, Coboy, dan Indian. Di mading ini mereka ingin membahas sisi lain kehidupan dunia barat yang jarang diketahui masyarakat awam. Berbagai rintangan, cobaan, dan halangan sering dialami tim mading ini. Sebagai sekolah yang cukup aktif dalam berbagai kegiatan intra ataupun ekstra sekolah, jadwal proses pembuatan mading mereka ini sempat berbenturan dengan kegiatan-kegiatan wajib sekolah yang harus diikuti. Beberapa kegiatan sekolah ini sempat membuat tertundanya pengerjaan mading. Namun, demi menyelesaikan mading tersebut, mereka rela berkorban menginap di sekolah.
            Perjuangan Tim mading Smastra bertambah ketika mereka berada di Surabaya. Mereka juga rela menginap di parkir basement SSCC. Mereka rela tidur tanpa alas satu helai pun. Beberapa penyakit juga sempat menyerang beberapa anggota karena perbedaan suhu yang sangat berbanding jauh. "Suhu di Surabaya sangat panas, sedangkan di desa, kami terbiasa dengan suhu yang dingin. Karena perubahan suhu yang mencolok dan jarak antara Surabaya-Prigen yang lumayan jauh beberapa dari kami pun ada yang terjatuh sakit. Saya sendiri pun juga merasakan hal ini." Ceritanya sedih.
            Bicara tentang kampanye, tim mading Smastra berhasil membawa pulang gelar first place di Best Campaign. Mereka percaya diri saat unjuk gigi berkampanye dengan konsep yang sangat unik untuk indoor, yaitu fashion carnaval yang menggunakan kostum bertema pesona alam. "Sebelum fashion carnaval berlangsung, ada sebuah teatrikal yang menceritakan tentang Indian dengan Coboy saling berebut wilayah yang kemudian pada akhir teatrikal mereka saling memaafkan dan dilanjutkan karnaval kostum unik yang sembari mempromosikan sekolahnya. SMA Sejahtera Prigen adalah satu-satunya sekolah yang berasal dari luar Surabaya yang berhasil merebut salah satu posisi di 3 posisi gelar Best School, dan mereka akhirnya berhasil membawa pulang gelar 2nd place Best School. Balutan kisah dan perjuangan mereka diharapkan terus selamanya dapat menuai hasil yang terbaik, yakni prestasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Penyesalan Tiada Arti

Blackberry dan Remaja

Keseruan Lomba Antarkelas di SMATAG Champion 2K12