Adu Nasib di Axis DetEksi-Con 2k12
Salah satu cerita datang dari
peserta AXIS Mading 3D paling jauh di Jawa Timur, Probolinggo. Berbagai
rintangan dan halangan pun mereka lalui baik saat proses pembuatan mading
hingga berada di Surabaya .
Mading 3D karya MA Miftahul Jannah Probolinggo ini memakan proses pembuatan
sekitar 2 bulan dan menelan biaya hingga 1,5
juta. Awalnya, mereka membuat mading sampai berjumlah 3 mading. Karena
ada salah satu kendala di persyaratan, maka tim ini dengan berat hati
meninggalkan 1 mading 2D lainnya. Dan memilih mading 3D yang berisi
artikel-artikel tentang berita penganiyayaan wartawan, fakta-fakta wartawan di
berbagai negara, foto-foto berita penganiyayaan wartawan ini untuk dikirim.
“Pada saat pemindahan mading dari Probolinggo ke Surabaya butuh ekstra perjuangan. Mading kita
sempat rusak 40 % karena efek perjalanan jauh yang kami alami. Dan pada saat
itu juga di Surabaya
kami segera memperbaikinya. Dengan alat dan bahan seadanya kami memperbaiki
mading menjadi seperti semula.” Terang Solikin, salah satu tim kreatif mading
MA Miftahul Jannah Probolinggo.
“Kami ingin mewujudkan kebebasan press
yang sesungguhnya, bukan yang tidak nyata seperti saat ini.” Lanjutnya.
Mading yang berjudul Tour de press ini spesial membahas tentang kebebasan press yang
pelaksanaannya saat ini belum maksimal di Indonesia.Mading tersebut terbuat
dari 70 % bahan alami. Diantaranya daun-daun kering, bunga tangkai kelapa yang
diperoleh tidak lepas dari rintangan berat. Masalah kekompakan antara anggota
mading pun sering terjadi di tim ini. Namun, meskipun banyak kendala yang
dihadapi, tak tanggung-tanggung MA Miftahul Jannah Probolinggo ini sejak tahun
2004-2011 selalu membawa pulang medali di kompetisi mading ini. Di tahun
kesebelas penyelenggaraan AXIS Mading 2D / 3D ini akhirnya mereka membawa
pulang medali kembali.
Pengorbanan dan perjuangan tim
mading ini tak berhenti disitu saja. Saat pelaksanaan konvensi dimulai, mereka
rela menginap di parkir basement SSCC. Tak bisa dipungkiri, ternyata
pengorbanan mereka menginap di basement mereka mulai sejak tahun 2009
lalu. “Selama 14 hari tinggal di Surabaya
dengan uang seadanya. Sering kali kami mengalami defisit dalam keuangan kami.
Untuk mengakali hal seperti ini kami rela jual koran-koran bekas, kardus bekas
atau barang-barang bekas lainnya untuk tambahan uang makan kita.” Kenang
Solikin, lirih.
Berbeda dengan Ilma Syahfitri, siswa
SMA Sejahtera Prigen. Datang dari kabupaten yang terkenal dengan Taman Safari
Jatim-nya, SMA Sejahtera Prigen ini begitu percaya diri dengan membuat mading
yang berjudul "The Real Wild West". Mading 3D yang bertema tentang
sisi lain western ini juga mengangkat berbagai cerita tentang Oregon trail , Coboy, dan Indian. Di
mading ini mereka ingin membahas sisi lain kehidupan dunia barat yang jarang
diketahui masyarakat awam. Berbagai rintangan, cobaan, dan halangan sering
dialami tim mading ini. Sebagai sekolah yang cukup aktif dalam berbagai
kegiatan intra ataupun ekstra sekolah, jadwal proses pembuatan mading mereka
ini sempat berbenturan dengan kegiatan-kegiatan wajib sekolah yang harus
diikuti. Beberapa kegiatan sekolah ini sempat membuat tertundanya pengerjaan
mading. Namun, demi menyelesaikan mading tersebut, mereka rela berkorban
menginap di sekolah.
Perjuangan Tim mading Smastra
bertambah ketika mereka berada di Surabaya .
Mereka juga rela menginap di parkir basement SSCC. Mereka rela tidur
tanpa alas satu helai pun. Beberapa penyakit juga sempat menyerang beberapa
anggota karena perbedaan suhu yang sangat berbanding jauh. "Suhu di
Surabaya sangat panas, sedangkan di desa, kami terbiasa dengan suhu yang
dingin. Karena perubahan suhu yang mencolok dan jarak antara Surabaya-Prigen
yang lumayan jauh beberapa dari kami pun ada yang terjatuh sakit. Saya sendiri
pun juga merasakan hal ini." Ceritanya sedih.
Bicara
tentang kampanye, tim mading Smastra berhasil membawa pulang gelar first
place di Best Campaign. Mereka percaya diri saat unjuk gigi
berkampanye dengan konsep yang sangat unik untuk indoor, yaitu fashion carnaval
yang menggunakan kostum bertema pesona alam. "Sebelum fashion
carnaval berlangsung, ada sebuah teatrikal yang menceritakan tentang Indian
dengan Coboy saling berebut wilayah yang kemudian pada akhir teatrikal mereka
saling memaafkan dan dilanjutkan karnaval kostum unik yang sembari
mempromosikan sekolahnya. SMA Sejahtera Prigen adalah satu-satunya sekolah yang
berasal dari luar Surabaya yang berhasil merebut
salah satu posisi di 3 posisi gelar Best School, dan mereka akhirnya
berhasil membawa pulang gelar 2nd place Best School .
Balutan kisah dan perjuangan mereka diharapkan terus selamanya dapat menuai
hasil yang terbaik, yakni prestasi
Komentar
Posting Komentar