Koran Surya Edisi 25 November 2013 YouGen
Lestarikan Wayang di Hari Pahlawan
Dalam rangka memperingati hari pahlawan yang ke-68, SMA 17 Agustus
1945 menggelar acara yang cukup besar yang
melibatkan kalangan pelajar SMP se-Surabaya dan
Sidoarjo. Acara bertajuk Gelar Seni ini menyuguhkan beberapa lomba, yakni lomba
lukis terbuka dan lomba membaca puisi yang memperebutkan Piala Kepala Dinas
Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan hadiah jutaan rupiah. Acara yang bertujuan
untuk menanamkan kreativitas dan menanamkan nilai-nilai kepahlawanan ini
digelar pada Sabtu (16/11) di Komplek SMA 17 Agustus 1945 di Jalan Semolowaru
45 Surabaya. “Kegiatan yang dimotori oleh beberapa dewan guru dan seluruh
angoota OSIS ini dilatar belakangi oleh hari pahlawan yang dihibur oleh
pertunjukan wayang dalang cilik yang dimaksudkan agar budaya wayang itu tidak
hilang tapi semakin dikenal ke semua peserta yang rata-rata berusia 15 tahun.
Dan juga untuk memperkenalkan nama SMATAG.” Terang Samuel Prasetyo, selaku
ketua OSIS SMATAG 2013.
Mulai pukul 09.00, pagelaran
dibuka dengan hiburan Pagelaran Wayang dalang cilik Sanggar Baladewa, kemudian
sambutan-sambutan dari Drs. Prehantoro, SH.,M.hum., MM. selaku kepala sekolah
SMA 17 Agustus 1945 dan Drs. Ahmad Effendi, MM. selaku ketua Komite SMA 17 Agustus 1945. “Untuk menanamkan nilai
berbudi luhur dan semangat belajar yang tinggi para pemuda saat ini sangat
diperlukan kegiatan yang mereka sukai dan dilokalisir secara baik dan benar.”
Jelas Drs.Prehantoro,SH,M.Hum,MM selaku kepala sekolah SMA 17 Agustus 1945.
Di hadapan ratusan penonton, dalang
cilik bernama lengkap Tatas Aglis Budi Jatmiko membawakan kisah Gatotkaca
dengan kemasan berbeda. “Cerita ini menjelaskan Gatotkaca saat dikukuhkan
menjadi kesatria. Namun dalam pencapaian untuk menjadi kesatria itu ia
mendapatkan banyak rintangan. Namun karena semangatnya untuk mencapai puncak
tersebut sangat menggebu-gebu ia akhirnya bisa melewati berbagai rintangan
tersebut.” Jelasnya.
Menariknya, pementasan wayang
yang berlangsung selama 2 jam ini ditampilkan dengan gaya yang berbeda.
Meskipun masih belia, namun Aglis mampu membuat suasana mencair dengan guyonan
khasnya. Para guru dan siswa-siswi dari SMATAG yang sengaja datang untuk melihat pagelaran ini berdecak kagum
melihat aksi Aglis. “Dalangnya hebat masih kecil udah mau serius mempelajari
budaya Indonesia dan ingin melestarikannya.” Komentar Greta Egidia.
Begitu halnya dengan lomba
membaca puisi yang diikuti 22 sekolah se-Surabaya dan Sidoarjo yang digelar di
Aula SMA 17 Agustus 1945. Lomba yang bertemakan kepahlawanan ini berlangsung
cukup meriah, dengan sebagian peserta memakai baju ala perjuangan. Judul puisi
yang dibawakan pun cukup terkenal, seperti Krawang Bekasi, Pahlawan tak
dikenal, pahlawanku, Dibalik seruan pahlawan. Di depan 3 juri, sekitar 50
peserta yang mendaftar dengan biaya Rp.15.000/anak mampu menampilkan karya
puisi dengan maksimal. “Para peserta cukup ekspresif dalam penyampaian puisi,
penampilan mereka juga terbilang unik karena juga didukung kostum yang menarik.”
Komentar Barky Annahari, siswa SMATAG yang juga sengaja datang untuk melihat Gelar seni ini.
Tak berselang waktu lama setelah semua
kegiatan usai, tim juri yang merupakan tokoh profesional dalam bidang puisi dan seni lukis mengumumkan
para pemenang dari lomba tersebut. Untuk lomba melukis, Juara 1 dimenangkan oleh Anisa Kamila dari
SMPN 19 Surabaya dan mendapatkan uang tunai 1 juta rupiah, Juara 2 dimenangkan
oleh Yueren Putri dari SMPN 19 Surabaya, dan Juara 3 dimenang kan oleh Alivia
dari SMPN 23 Surabaya. Sedangkan untuk lomba membaca puisi Juara 1 dimenangkan
oleh Muhammad Abib Nuruzzaman dari MI Baiturrahim Surabaya dan mendapatkan uang
tunai 1 juta rupiah, Juara 2 dimenangkan oleh Widya Triwicakyani dari SMPN 2
Taman Sidoarjo, dan Juara 3 dimenangkan oleh Wangsit dari SMP Lukmannul Hakim.
Tatas Aglis Budi Jatmiko, Ingin Teman Sebaya Sukai
Budaya Tradisional
Di era modern seperti ini, jarang sekali anak muda yang menyukai
kultur budaya tradisional. Apalagi di kota besar seperti Surabaya ini kita pasti sulit menemukan anak muda yang menekuni budaya tradisional. Kebanyakan
dari mereka mengikuti popularitas tren hidup yang ada di kota-kota besar. Namun, berbeda
dengan Tatas Aglis Budi Jatmiko. Lahir dari keluarga dalang, siswa SMP Hang
Tuah 1 Surabaya yang masih baru berusia 13 tahun ini terjun di dunia perwayangan
sejak kecil.
Tepatnya sejak kelas 2 SD ia mulai tertarik dengan dunia perwayangan.
Dimulai dari menonton ayahnya mendalang di berbagai acara, ia pun mulai
tertarik menjajal dunia perwayangan. “Saya suka melihat ayah jadi dalang,
makanya saya tertarik ingin menjadi dalang juga.” Ujarnya. Ia terjun di dunia dalang karena
ingin melestarikan budaya Jawa seperti ludruk, wayang dan karawitan yang hampir
punah. Banyak remaja saat ini memang tidak begitu peduli dengan kesenian
tradisional. Namun, ia ingin mengajak teman-teman untuk lebih mencintai dan
peduli dengan budaya asli Indonesia lewat acara-acara seperti ini. “Saya lihat
anak remaja sekarang banyak yang tidak tertarik dengan kesenian tradisional
seperti wayang. Maka, saya mengajak mereka untuk mengapresiasi seni wayang.” Tambah
dalang yang memiliki sapaan akrab Aglis.
Ia rutin mengikuti latihan mendalang sebanyak dua kali dalam seminggu di Sanggar Baladewa yang
bertempatan di Taman Budaya Jawa Timur. Dengan kemampuannya mendalang,
remaja berambut lurus ini telah mempunyai segudang prestasi, antara
lain Juara I Lomba dalang cilik yang digelar di Jogjakarta, Juara 5 Lomba
dalang yang digelar di Cak durasim Surabaya, kemudian ia kerap mengikuti
beberapa festival dalang seperti Festival Dalang bocah se-Nusantara, Festival
dalang cilik di Jakarta dan masih banyak lagi.

Komentar
Posting Komentar